Dewan Perwakilan Rakyat [?]
Menjadi
wanita cantik dan kaya, itulah aku, Shanika. Aku tak pernah mengharapakan ini,
tapi inilah kenyataanya. Saat pergi dan pulang sekolah, mobil mewah hadiah
ulang tahun dari ayah selalu mengantar dan menjemputku. Pak ridwan, sopirku,
sudah menjadi ‘kuda’ ku yang bisa ku kendalikan kemana-mana. Setiap pagi, Bu
minah tak pernah lupa untuk membangunkan aku yang selalu tertidur pulas
dikelilingi segala kemewahan yang ada di kamarku. Pak ridwan dan Bu minah
adalah pasangan suami istri yang khusus bekerja untukku, karena kedua orang
tuaku sibuk mengurusi pekerjaan mereka masing-masing.
“Non, bangun non, ayo mandi,
waktunya sekolah non.”, ucap Bu Minah sambil menepuk-nepuk kakiku.
“Iya
bu, bentar lagi!”, desahku.
“Eh
cepat non, nanti telat, ayo bangun!”, Bu Minah memaksa.
Aku pun
mengalah, sembari mata yang masih tertutup rapat, aku bergegas menuju kamar
mandi. Waktuku untuk mandi dan berias lebih lama dibandingkan waktu untuk
sarapan. Bahkan, seringkali aku tak sempat untuk sarapan karena lupa waktu saat
berias.
Aku segera
bergegas pergi menuju mobil mewahku karena jam yang baru ku beli seharga 700
ribu rupiah telah menunjukan pukul 06.30 .
“Ayo, tarik pa!”, ucapku pada Pak
Ridwan.
“Siap non.”, balas Pak Ridwan tanpa
banyak bicara.
Hanphone
“teranyar dan termahalku” berkedip, itu dari Ayah. Ia selalu meneleponku saat
pagi, memastikan bahwa aku sudah berangkat sekolah. Tanpa berpikir panjang,
langsung ku jawab.
“Iya
Ayah, aku sudah berangkat!”, ucapku dengan nada malas bicara.
“Baguslah
kalau begitu, satu minggu lagi Ayah pulang nak! Tunggu saja ya, masih ada tugas
yang harus diselesaikan, belajarlah yang baik ya, jangan lupa...”
“Iya
Ayah aku tahu, sudah ya.”, ku sela pembicaraan Ayah dan langsung ku tutup.
Aku tinggal di Bandung bersama
ibuku, itupun jika Ibu sedang ada di rumah, karena Ibu juga sama sibuknya
seperti Ayah. Ayahku seorang anggota DPR di Jakarta, yang katanya mereka
mengabdi dan mewakilkan rakyat. Terkadang aku malu dengan pemberitaan di
televisi mengenai DPR yang menghamburkan uang rakyat. Tapi yasudahlah, yang
penting aku bahagia dengan hidupku sekarang. Walaupun terkadang pikiranku
selalu melayang pada pemberitaan di televisi yang mengatasnamakan pekerjaan
ayahku.
~~~
“Lihat deh Bu, berita-berita
sekarang yang dibahas DPR melulu, ga ada berita lain apa ya?”, ucap Pak Ridwan.
“Ibu
juga ga ngerti Pak, hmm lihat deh mereka, mereka sibuk bikin kalender yang
harganya sampai miliaran. Padahal kan kalo di kampung kita, kalender itu ga
nyampe 50 ribu. Lagian Ibu yakin kalau ‘henpun’nya mereka itu ada kalendernya
juga. Malah non Shanika pernah ngejelasin kalau ‘henpun’ nya itu bisa ngingetin
kita hari ulang tahun orang-orang, terus juga bisa ngingetin
perjanjian-perjanjian gitu Pak. Ibu yakin kalau ‘henpun’ mereka ga jauh sama
kayak punyanya non Shanika, canggih.”, kata Bu Minah panjang lebar.
“Iya
Bu, mmm Bapak juga yakin kalau kalender itu mereka pajang buat ngebuletin
tanggal gajihan aja Bu, kan kalau kalender punya kita dipajang buat ngebuletin
tanggal bayaran sekolah si Dodi di kampung, terus juga buat biayain si Emak
yang sakit-sakitan di kampung.”, kata Pak Ridwan.
“Iya
Pak, wah wah wah liat tuh Pak ! DPR beli kursi yang harganya 24 juta ! Astaghfirullah,
uang 24 juta bisa buat beli tanah tuh Pak kalo di kampung!”, kata Bu Minah
dengan mata yang hampir tak berkedip dengan tangan yang tetap menunjuk ke arah
televisi.
“Palingan
itu kursi hanya dipakai pada saat rapat, biar mereka bisa tambah nyaman tidur
saat rapat.”, balas Pak Ridwan.
Rasa kesal yang
dirasakan kedua pembantu pada anggota DPR itu tiba-tiba berubah menjadi rasa
takut saat Shanika telah memasang muka merah tanda kemarahan tak terelakan.
“Apa
maksud kalian? Kalian membicarakan ayahku? Hah? Ayahku bekerja, bukan tidur
saat rapat!”, sentak Shanika.
“Eh
non udah pulang?”, kata bu Minah dengan nada penuh rasa takut dan bersalah.
“Alah
sudahlah!”, Shanika pergi menuju kamar dan membanting pintu.
Keadaan menjadi
hening sejenak.
“Ya
Ibu sih kalo ngomong dijaga, Tuan kan kerjanya sebagai anggota DPR!”, bisik Pak
Ridwan.
“Bapak
juga ikut - ikutan!”, Bu Minah tak mau kalah.
Kedua orang itu melanjutkan menonton
televisi, sambil mengganti-ganti channel, tapi hasilnya nihil, saat itu semua
stasiun televisi memberitakan DPR yang katanya memboroskan uang rakyat.
“Waduh
waduh liat Bu, mereka mau ngebenerin toilet sampai miliaran! Padahal toiletnya
masih bagus ko, coba kalau mereka bisa ngerasain gimana rasanya buang air di
sungai. Memangnya mereka kalau kerja itu ke toilet terus ya? Karena bosan saat
rapat, jadi mereka bisa bulak balik ke toilet, gitu?”, Pak Ridwan memulai lagi.
“Ah
pusing Pak mikirin mereka, memangnya mereka mikirin nasib kita? Mereka ga peka
sama rakyat Pak! Sudahlah Pak, coba pindah channel!”, suruh Bu Minah.
Tanpa banyak
bicara, Pak Ridwan memindahkan channel. Malam itu, televisi di ruang tengah
serasa milik berdua. Maklum, malam minggu adalah waktu bebas bagi mereka untuk
menonton tv, itu kebijakan Shanika.
“Pak
Pak Pak ! Itu Dodi kan? Ya Allah, jembatan di kampung kita itu Pak ! lihat Pak,
hancur Pak ! Itu ngapain Dodi gelantungan di jembatan Pak? Astaghfirullah !”,
ucap Bu Minah dengan mata yang hampir meneteskan air mata.
Saat itu, salah
satu stasiun televisi menayangkan video
seorang bocah laki-laki memakai seragam putih merah sedang menggelantung di
jembatan. Dengan penuh kehati-hatian ia berjalan dengan mata yang selalu
melihat ke depan dan ke bawah secara bergantian, memastikan agar ia baik-baik
saja.
“Ada
apa Bu?”, aku menyela pembicaraan.
Aku
ingin meminta maaf pada mereka, karena setelah ku pikir2, mungkin memang benar
adanya, ayahku, DPR pemboros uang rakyat. Namun di sisi lain, aku juga tidak
terlalu menganggap pembicaraan mereka tadi, mungkin mereka hanya mengutarakan
pendapat saja. Aku berharap ayahku tidak sama dengan apa yang dibicarakan oleh
Bu Minah dan Pak Ridwan.
“Non,
lihat non! Itu Dodi!”,kata Bu Minah sambil mencucurkan air mata.
“Dodi?
Siapa Bu?”, tanyaku heran.
“Anak
Ibu, non, bagaimana kalu dia jatuh, lihat non! Coba non nonton tuh.”, paksa Bu
Minah.
Aku tertegun, hatiku hancur, ingin
menangis namun tertahan, bagaimana bisa anak umur 8 tahun menyebrangi sungai
dengan jembatan yang sudah roboh? Entah mengapa hatiku merasa terpukul, aku
merasa ini tak adil, mungkin karena pemberitaan itu juga mengaitkan dengan
pekerjaan ayahku sebagai anggota DPR yang dinilai menghabiskan uang rakyat.
Sebelumnya, aku selalu ‘cuek’ dengan pemberitaan di televisi. Tapi kali ini,
aku tak bisa bersikap dingin lagi.
“Bu,
besok kita kesana ya?”,ajak ku tanpa berpikir panjang.
“Kemana
non?”, tanya Bu Minah heran.
“Kita
jenguk Dodi, Shanika yakin Ibu kangen kan sama Dodi? Apalagi sudah lama Ibu tak
ku ijinkan pulang kampung. Karena jujur saja Bu, aku merasa kesepian tanpa
kalian. Karena orangtuaku sama-sama sibuk, kalian yang selalu menemani Shanika”,
ucapku sambil memeluk Bu Minah. Sebelumnya, aku tak pernah se ‘so sweet’ ini
pada Bu Minah.
Keesokan
harinya, aku pergi ke kampung halaman Bu Minah di Tanggerang, aku ingin melihat
langsung keadaan jembatan yang hancur itu. Sesampainya disana, sungguh aku tak
tahu apa yang harus aku lakukan. Setiap hari aku pergi ke sekolah diantar mobil
mewah, sementara mereka harus melangkah sedikit demi sedikit dengan penuh
kehati-hatian menyebrangi sungai dengan berjalan di tambang-tambang sisa
jembatan yang roboh demi menimba ilmu.
Aku
semakin tak mengerti, apa saja yang ayah lakukan? Ia tega meninggalkan keluarga
demi kepuasan dan kesejahteraan keluarganya saja, aku sadar bukan kiriman uang
lagi yang kuharap, aku mengharapkan sosok Ayah yang seutuhnya mngabdi pada
rakyat. Dan inikah pekerjaan ayahku yang sebenarnya? Dewan Perwakilan Rakyat
yang terhormat yang tidak peka pada rakyatnya? Semoga itu tidak berlaku pada
ayahku. Bu minah dan Pak Ridwan yang sudah ku anggap sebagai keluargaku
sendiri, juga harus mendapat getahnya. Aku harus menunggu 6 hari lagi untuk
bertemu dengan Ayah, akan ku ceritakan ini semua dan akan ku tanyakan apa saja
yang ia lakukan saat bekerja, dan mengapa ia memberiku uang tanpa henti dengan
jumlah yang tidak sedikit? Sedangkan di sisi lain, masih ada orang-orang yang
membutuhkan. Mungkinkah? Ayahku seorang koruptor? Astaghfirullah, semoga tidak.
~~~
“Dodi,
cita-citanya mau jadi apa?”, tanyaku dengan lembut.
“Dodi
ingin jadi anggota DPR ka!”, ucapnya dengan polos. Aku terkejut.
“Oh
kalau begitu, tatap mata kakak, dengar ini ya, jadikan pengalaman hidupmu agar
bisa mengabdi pada rakyat seutuhnya.”,
Seerat mungkin,
ku peluk tubuh mungil Dodi, air mataku menetes mengenai rambutnya.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar