Sabtu, 13 Oktober 2012

Dewan Perwakilan Rakyat [?]



    

Dewan Perwakilan Rakyat [?]

Menjadi wanita cantik dan kaya, itulah aku, Shanika. Aku tak pernah mengharapakan ini, tapi inilah kenyataanya. Saat pergi dan pulang sekolah, mobil mewah hadiah ulang tahun dari ayah selalu mengantar dan menjemputku. Pak ridwan, sopirku, sudah menjadi ‘kuda’ ku yang bisa ku kendalikan kemana-mana. Setiap pagi, Bu minah tak pernah lupa untuk membangunkan aku yang selalu tertidur pulas dikelilingi segala kemewahan yang ada di kamarku. Pak ridwan dan Bu minah adalah pasangan suami istri yang khusus bekerja untukku, karena kedua orang tuaku sibuk mengurusi pekerjaan mereka masing-masing.
            “Non, bangun non, ayo mandi, waktunya sekolah non.”, ucap Bu Minah sambil menepuk-nepuk kakiku.
“Iya bu, bentar lagi!”, desahku.
“Eh cepat non, nanti telat, ayo bangun!”, Bu Minah memaksa.
Aku pun mengalah, sembari mata yang masih tertutup rapat, aku bergegas menuju kamar mandi. Waktuku untuk mandi dan berias lebih lama dibandingkan waktu untuk sarapan. Bahkan, seringkali aku tak sempat untuk sarapan karena lupa waktu saat berias.
Aku segera bergegas pergi menuju mobil mewahku karena jam yang baru ku beli seharga 700 ribu rupiah telah menunjukan pukul 06.30 .
            “Ayo, tarik pa!”, ucapku pada Pak Ridwan.
            “Siap non.”, balas Pak Ridwan tanpa banyak bicara.
Hanphone “teranyar dan termahalku” berkedip, itu dari Ayah. Ia selalu meneleponku saat pagi, memastikan bahwa aku sudah berangkat sekolah. Tanpa berpikir panjang, langsung ku jawab.
“Iya Ayah, aku sudah berangkat!”, ucapku dengan nada malas bicara.
“Baguslah kalau begitu, satu minggu lagi Ayah pulang nak! Tunggu saja ya, masih ada tugas yang harus diselesaikan, belajarlah yang baik ya, jangan lupa...”
“Iya Ayah aku tahu, sudah ya.”, ku sela pembicaraan Ayah dan langsung ku tutup.
            Aku tinggal di Bandung bersama ibuku, itupun jika Ibu sedang ada di rumah, karena Ibu juga sama sibuknya seperti Ayah. Ayahku seorang anggota DPR di Jakarta, yang katanya mereka mengabdi dan mewakilkan rakyat. Terkadang aku malu dengan pemberitaan di televisi mengenai DPR yang menghamburkan uang rakyat. Tapi yasudahlah, yang penting aku bahagia dengan hidupku sekarang. Walaupun terkadang pikiranku selalu melayang pada pemberitaan di televisi yang mengatasnamakan pekerjaan ayahku.
~~~
            “Lihat deh Bu, berita-berita sekarang yang dibahas DPR melulu, ga ada berita lain apa ya?”, ucap Pak Ridwan.
“Ibu juga ga ngerti Pak, hmm lihat deh mereka, mereka sibuk bikin kalender yang harganya sampai miliaran. Padahal kan kalo di kampung kita, kalender itu ga nyampe 50 ribu. Lagian Ibu yakin kalau ‘henpun’nya mereka itu ada kalendernya juga. Malah non Shanika pernah ngejelasin kalau ‘henpun’ nya itu bisa ngingetin kita hari ulang tahun orang-orang, terus juga bisa ngingetin perjanjian-perjanjian gitu Pak. Ibu yakin kalau ‘henpun’ mereka ga jauh sama kayak punyanya non Shanika, canggih.”, kata Bu Minah panjang lebar.
“Iya Bu, mmm Bapak juga yakin kalau kalender itu mereka pajang buat ngebuletin tanggal gajihan aja Bu, kan kalau kalender punya kita dipajang buat ngebuletin tanggal bayaran sekolah si Dodi di kampung, terus juga buat biayain si Emak yang sakit-sakitan di kampung.”, kata Pak Ridwan.
“Iya Pak, wah wah wah liat tuh Pak ! DPR beli kursi yang harganya 24 juta ! Astaghfirullah, uang 24 juta bisa buat beli tanah tuh Pak kalo di kampung!”, kata Bu Minah dengan mata yang hampir tak berkedip dengan tangan yang tetap menunjuk ke arah televisi.
“Palingan itu kursi hanya dipakai pada saat rapat, biar mereka bisa tambah nyaman tidur saat rapat.”, balas Pak Ridwan.
Rasa kesal yang dirasakan kedua pembantu pada anggota DPR itu tiba-tiba berubah menjadi rasa takut saat Shanika telah memasang muka merah tanda kemarahan tak terelakan.
“Apa maksud kalian? Kalian membicarakan ayahku? Hah? Ayahku bekerja, bukan tidur saat rapat!”, sentak Shanika.
“Eh non udah pulang?”, kata bu Minah dengan nada penuh rasa takut dan bersalah.
“Alah sudahlah!”, Shanika pergi menuju kamar dan membanting pintu.
Keadaan menjadi hening sejenak.
“Ya Ibu sih kalo ngomong dijaga, Tuan kan kerjanya sebagai anggota DPR!”, bisik Pak Ridwan.
“Bapak juga ikut - ikutan!”, Bu Minah tak mau kalah.
            Kedua orang itu melanjutkan menonton televisi, sambil mengganti-ganti channel, tapi hasilnya nihil, saat itu semua stasiun televisi memberitakan DPR yang katanya memboroskan uang rakyat.
“Waduh waduh liat Bu, mereka mau ngebenerin toilet sampai miliaran! Padahal toiletnya masih bagus ko, coba kalau mereka bisa ngerasain gimana rasanya buang air di sungai. Memangnya mereka kalau kerja itu ke toilet terus ya? Karena bosan saat rapat, jadi mereka bisa bulak balik ke toilet, gitu?”, Pak Ridwan memulai lagi.
“Ah pusing Pak mikirin mereka, memangnya mereka mikirin nasib kita? Mereka ga peka sama rakyat Pak! Sudahlah Pak, coba pindah channel!”, suruh Bu Minah.
Tanpa banyak bicara, Pak Ridwan memindahkan channel. Malam itu, televisi di ruang tengah serasa milik berdua. Maklum, malam minggu adalah waktu bebas bagi mereka untuk menonton tv, itu kebijakan Shanika.
“Pak Pak Pak ! Itu Dodi kan? Ya Allah, jembatan di kampung kita itu Pak ! lihat Pak, hancur Pak ! Itu ngapain Dodi gelantungan di jembatan Pak? Astaghfirullah !”, ucap Bu Minah dengan mata yang hampir meneteskan air mata.
Saat itu, salah satu stasiun televisi  menayangkan video seorang bocah laki-laki memakai seragam putih merah sedang menggelantung di jembatan. Dengan penuh kehati-hatian ia berjalan dengan mata yang selalu melihat ke depan dan ke bawah secara bergantian, memastikan agar ia baik-baik saja.
“Ada apa Bu?”, aku menyela pembicaraan.
Aku ingin meminta maaf pada mereka, karena setelah ku pikir2, mungkin memang benar adanya, ayahku, DPR pemboros uang rakyat. Namun di sisi lain, aku juga tidak terlalu menganggap pembicaraan mereka tadi, mungkin mereka hanya mengutarakan pendapat saja. Aku berharap ayahku tidak sama dengan apa yang dibicarakan oleh Bu Minah dan Pak Ridwan.
“Non, lihat non! Itu Dodi!”,kata Bu Minah sambil mencucurkan air mata.
“Dodi? Siapa Bu?”, tanyaku heran.
“Anak Ibu, non, bagaimana kalu dia jatuh, lihat non! Coba non nonton tuh.”, paksa Bu Minah.
            Aku tertegun, hatiku hancur, ingin menangis namun tertahan, bagaimana bisa anak umur 8 tahun menyebrangi sungai dengan jembatan yang sudah roboh? Entah mengapa hatiku merasa terpukul, aku merasa ini tak adil, mungkin karena pemberitaan itu juga mengaitkan dengan pekerjaan ayahku sebagai anggota DPR yang dinilai menghabiskan uang rakyat. Sebelumnya, aku selalu ‘cuek’ dengan pemberitaan di televisi. Tapi kali ini, aku tak bisa bersikap dingin lagi.



“Bu, besok kita kesana ya?”,ajak ku tanpa berpikir panjang.
“Kemana non?”, tanya Bu Minah heran.
“Kita jenguk Dodi, Shanika yakin Ibu kangen kan sama Dodi? Apalagi sudah lama Ibu tak ku ijinkan pulang kampung. Karena jujur saja Bu, aku merasa kesepian tanpa kalian. Karena orangtuaku sama-sama sibuk, kalian yang selalu menemani Shanika”, ucapku sambil memeluk Bu Minah. Sebelumnya, aku tak pernah se ‘so sweet’ ini pada Bu Minah.
Keesokan harinya, aku pergi ke kampung halaman Bu Minah di Tanggerang, aku ingin melihat langsung keadaan jembatan yang hancur itu. Sesampainya disana, sungguh aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Setiap hari aku pergi ke sekolah diantar mobil mewah, sementara mereka harus melangkah sedikit demi sedikit dengan penuh kehati-hatian menyebrangi sungai dengan berjalan di tambang-tambang sisa jembatan yang roboh demi menimba ilmu.
Aku semakin tak mengerti, apa saja yang ayah lakukan? Ia tega meninggalkan keluarga demi kepuasan dan kesejahteraan keluarganya saja, aku sadar bukan kiriman uang lagi yang kuharap, aku mengharapkan sosok Ayah yang seutuhnya mngabdi pada rakyat. Dan inikah pekerjaan ayahku yang sebenarnya? Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat yang tidak peka pada rakyatnya? Semoga itu tidak berlaku pada ayahku. Bu minah dan Pak Ridwan yang sudah ku anggap sebagai keluargaku sendiri, juga harus mendapat getahnya. Aku harus menunggu 6 hari lagi untuk bertemu dengan Ayah, akan ku ceritakan ini semua dan akan ku tanyakan apa saja yang ia lakukan saat bekerja, dan mengapa ia memberiku uang tanpa henti dengan jumlah yang tidak sedikit? Sedangkan di sisi lain, masih ada orang-orang yang membutuhkan. Mungkinkah? Ayahku seorang koruptor? Astaghfirullah, semoga tidak.
~~~
“Dodi, cita-citanya mau jadi apa?”, tanyaku dengan lembut.
“Dodi ingin jadi anggota DPR ka!”, ucapnya dengan polos. Aku terkejut.
“Oh kalau begitu, tatap mata kakak, dengar ini ya, jadikan pengalaman hidupmu agar bisa mengabdi pada rakyat seutuhnya.”,
Seerat mungkin, ku peluk tubuh mungil Dodi, air mataku menetes mengenai rambutnya.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sabtu, 13 Oktober 2012

Dewan Perwakilan Rakyat [?]



    

Dewan Perwakilan Rakyat [?]

Menjadi wanita cantik dan kaya, itulah aku, Shanika. Aku tak pernah mengharapakan ini, tapi inilah kenyataanya. Saat pergi dan pulang sekolah, mobil mewah hadiah ulang tahun dari ayah selalu mengantar dan menjemputku. Pak ridwan, sopirku, sudah menjadi ‘kuda’ ku yang bisa ku kendalikan kemana-mana. Setiap pagi, Bu minah tak pernah lupa untuk membangunkan aku yang selalu tertidur pulas dikelilingi segala kemewahan yang ada di kamarku. Pak ridwan dan Bu minah adalah pasangan suami istri yang khusus bekerja untukku, karena kedua orang tuaku sibuk mengurusi pekerjaan mereka masing-masing.
            “Non, bangun non, ayo mandi, waktunya sekolah non.”, ucap Bu Minah sambil menepuk-nepuk kakiku.
“Iya bu, bentar lagi!”, desahku.
“Eh cepat non, nanti telat, ayo bangun!”, Bu Minah memaksa.
Aku pun mengalah, sembari mata yang masih tertutup rapat, aku bergegas menuju kamar mandi. Waktuku untuk mandi dan berias lebih lama dibandingkan waktu untuk sarapan. Bahkan, seringkali aku tak sempat untuk sarapan karena lupa waktu saat berias.
Aku segera bergegas pergi menuju mobil mewahku karena jam yang baru ku beli seharga 700 ribu rupiah telah menunjukan pukul 06.30 .
            “Ayo, tarik pa!”, ucapku pada Pak Ridwan.
            “Siap non.”, balas Pak Ridwan tanpa banyak bicara.
Hanphone “teranyar dan termahalku” berkedip, itu dari Ayah. Ia selalu meneleponku saat pagi, memastikan bahwa aku sudah berangkat sekolah. Tanpa berpikir panjang, langsung ku jawab.
“Iya Ayah, aku sudah berangkat!”, ucapku dengan nada malas bicara.
“Baguslah kalau begitu, satu minggu lagi Ayah pulang nak! Tunggu saja ya, masih ada tugas yang harus diselesaikan, belajarlah yang baik ya, jangan lupa...”
“Iya Ayah aku tahu, sudah ya.”, ku sela pembicaraan Ayah dan langsung ku tutup.
            Aku tinggal di Bandung bersama ibuku, itupun jika Ibu sedang ada di rumah, karena Ibu juga sama sibuknya seperti Ayah. Ayahku seorang anggota DPR di Jakarta, yang katanya mereka mengabdi dan mewakilkan rakyat. Terkadang aku malu dengan pemberitaan di televisi mengenai DPR yang menghamburkan uang rakyat. Tapi yasudahlah, yang penting aku bahagia dengan hidupku sekarang. Walaupun terkadang pikiranku selalu melayang pada pemberitaan di televisi yang mengatasnamakan pekerjaan ayahku.
~~~
            “Lihat deh Bu, berita-berita sekarang yang dibahas DPR melulu, ga ada berita lain apa ya?”, ucap Pak Ridwan.
“Ibu juga ga ngerti Pak, hmm lihat deh mereka, mereka sibuk bikin kalender yang harganya sampai miliaran. Padahal kan kalo di kampung kita, kalender itu ga nyampe 50 ribu. Lagian Ibu yakin kalau ‘henpun’nya mereka itu ada kalendernya juga. Malah non Shanika pernah ngejelasin kalau ‘henpun’ nya itu bisa ngingetin kita hari ulang tahun orang-orang, terus juga bisa ngingetin perjanjian-perjanjian gitu Pak. Ibu yakin kalau ‘henpun’ mereka ga jauh sama kayak punyanya non Shanika, canggih.”, kata Bu Minah panjang lebar.
“Iya Bu, mmm Bapak juga yakin kalau kalender itu mereka pajang buat ngebuletin tanggal gajihan aja Bu, kan kalau kalender punya kita dipajang buat ngebuletin tanggal bayaran sekolah si Dodi di kampung, terus juga buat biayain si Emak yang sakit-sakitan di kampung.”, kata Pak Ridwan.
“Iya Pak, wah wah wah liat tuh Pak ! DPR beli kursi yang harganya 24 juta ! Astaghfirullah, uang 24 juta bisa buat beli tanah tuh Pak kalo di kampung!”, kata Bu Minah dengan mata yang hampir tak berkedip dengan tangan yang tetap menunjuk ke arah televisi.
“Palingan itu kursi hanya dipakai pada saat rapat, biar mereka bisa tambah nyaman tidur saat rapat.”, balas Pak Ridwan.
Rasa kesal yang dirasakan kedua pembantu pada anggota DPR itu tiba-tiba berubah menjadi rasa takut saat Shanika telah memasang muka merah tanda kemarahan tak terelakan.
“Apa maksud kalian? Kalian membicarakan ayahku? Hah? Ayahku bekerja, bukan tidur saat rapat!”, sentak Shanika.
“Eh non udah pulang?”, kata bu Minah dengan nada penuh rasa takut dan bersalah.
“Alah sudahlah!”, Shanika pergi menuju kamar dan membanting pintu.
Keadaan menjadi hening sejenak.
“Ya Ibu sih kalo ngomong dijaga, Tuan kan kerjanya sebagai anggota DPR!”, bisik Pak Ridwan.
“Bapak juga ikut - ikutan!”, Bu Minah tak mau kalah.
            Kedua orang itu melanjutkan menonton televisi, sambil mengganti-ganti channel, tapi hasilnya nihil, saat itu semua stasiun televisi memberitakan DPR yang katanya memboroskan uang rakyat.
“Waduh waduh liat Bu, mereka mau ngebenerin toilet sampai miliaran! Padahal toiletnya masih bagus ko, coba kalau mereka bisa ngerasain gimana rasanya buang air di sungai. Memangnya mereka kalau kerja itu ke toilet terus ya? Karena bosan saat rapat, jadi mereka bisa bulak balik ke toilet, gitu?”, Pak Ridwan memulai lagi.
“Ah pusing Pak mikirin mereka, memangnya mereka mikirin nasib kita? Mereka ga peka sama rakyat Pak! Sudahlah Pak, coba pindah channel!”, suruh Bu Minah.
Tanpa banyak bicara, Pak Ridwan memindahkan channel. Malam itu, televisi di ruang tengah serasa milik berdua. Maklum, malam minggu adalah waktu bebas bagi mereka untuk menonton tv, itu kebijakan Shanika.
“Pak Pak Pak ! Itu Dodi kan? Ya Allah, jembatan di kampung kita itu Pak ! lihat Pak, hancur Pak ! Itu ngapain Dodi gelantungan di jembatan Pak? Astaghfirullah !”, ucap Bu Minah dengan mata yang hampir meneteskan air mata.
Saat itu, salah satu stasiun televisi  menayangkan video seorang bocah laki-laki memakai seragam putih merah sedang menggelantung di jembatan. Dengan penuh kehati-hatian ia berjalan dengan mata yang selalu melihat ke depan dan ke bawah secara bergantian, memastikan agar ia baik-baik saja.
“Ada apa Bu?”, aku menyela pembicaraan.
Aku ingin meminta maaf pada mereka, karena setelah ku pikir2, mungkin memang benar adanya, ayahku, DPR pemboros uang rakyat. Namun di sisi lain, aku juga tidak terlalu menganggap pembicaraan mereka tadi, mungkin mereka hanya mengutarakan pendapat saja. Aku berharap ayahku tidak sama dengan apa yang dibicarakan oleh Bu Minah dan Pak Ridwan.
“Non, lihat non! Itu Dodi!”,kata Bu Minah sambil mencucurkan air mata.
“Dodi? Siapa Bu?”, tanyaku heran.
“Anak Ibu, non, bagaimana kalu dia jatuh, lihat non! Coba non nonton tuh.”, paksa Bu Minah.
            Aku tertegun, hatiku hancur, ingin menangis namun tertahan, bagaimana bisa anak umur 8 tahun menyebrangi sungai dengan jembatan yang sudah roboh? Entah mengapa hatiku merasa terpukul, aku merasa ini tak adil, mungkin karena pemberitaan itu juga mengaitkan dengan pekerjaan ayahku sebagai anggota DPR yang dinilai menghabiskan uang rakyat. Sebelumnya, aku selalu ‘cuek’ dengan pemberitaan di televisi. Tapi kali ini, aku tak bisa bersikap dingin lagi.



“Bu, besok kita kesana ya?”,ajak ku tanpa berpikir panjang.
“Kemana non?”, tanya Bu Minah heran.
“Kita jenguk Dodi, Shanika yakin Ibu kangen kan sama Dodi? Apalagi sudah lama Ibu tak ku ijinkan pulang kampung. Karena jujur saja Bu, aku merasa kesepian tanpa kalian. Karena orangtuaku sama-sama sibuk, kalian yang selalu menemani Shanika”, ucapku sambil memeluk Bu Minah. Sebelumnya, aku tak pernah se ‘so sweet’ ini pada Bu Minah.
Keesokan harinya, aku pergi ke kampung halaman Bu Minah di Tanggerang, aku ingin melihat langsung keadaan jembatan yang hancur itu. Sesampainya disana, sungguh aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Setiap hari aku pergi ke sekolah diantar mobil mewah, sementara mereka harus melangkah sedikit demi sedikit dengan penuh kehati-hatian menyebrangi sungai dengan berjalan di tambang-tambang sisa jembatan yang roboh demi menimba ilmu.
Aku semakin tak mengerti, apa saja yang ayah lakukan? Ia tega meninggalkan keluarga demi kepuasan dan kesejahteraan keluarganya saja, aku sadar bukan kiriman uang lagi yang kuharap, aku mengharapkan sosok Ayah yang seutuhnya mngabdi pada rakyat. Dan inikah pekerjaan ayahku yang sebenarnya? Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat yang tidak peka pada rakyatnya? Semoga itu tidak berlaku pada ayahku. Bu minah dan Pak Ridwan yang sudah ku anggap sebagai keluargaku sendiri, juga harus mendapat getahnya. Aku harus menunggu 6 hari lagi untuk bertemu dengan Ayah, akan ku ceritakan ini semua dan akan ku tanyakan apa saja yang ia lakukan saat bekerja, dan mengapa ia memberiku uang tanpa henti dengan jumlah yang tidak sedikit? Sedangkan di sisi lain, masih ada orang-orang yang membutuhkan. Mungkinkah? Ayahku seorang koruptor? Astaghfirullah, semoga tidak.
~~~
“Dodi, cita-citanya mau jadi apa?”, tanyaku dengan lembut.
“Dodi ingin jadi anggota DPR ka!”, ucapnya dengan polos. Aku terkejut.
“Oh kalau begitu, tatap mata kakak, dengar ini ya, jadikan pengalaman hidupmu agar bisa mengabdi pada rakyat seutuhnya.”,
Seerat mungkin, ku peluk tubuh mungil Dodi, air mataku menetes mengenai rambutnya.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar