
Sumber gambar : disparbud.jabarprov.go.id
Mendengarkan
musik tradisional, mungkin bukan hal lazim yang sering kita lakukan.
Musik tradisional umumnya hanya kita temui pada acara-acara hajatan,
rumah makan tradisional, maupun event-event pentas budaya. Selebihnya
musik tradisional gaungnya kurang terdengar di tengah arus persaingan
musik Indonesia yang luar biasa ketatnya.
Sebagai
seorang penikmat musik, saya memang membiasakan telinga saya untuk bisa
menerima berbagai macam genre. Percaya atau tidak, saya bahkan pernah
menjadi penggemar k-pop, dan mengagumi sebuah boyband beranggotakan 13
orang dan pernah manggung di Indonesia tersebut. Kebiasaan untuk
menerima berbagai jenis genre musik tersebut, membuat saya mudah untuk
membuka diri terhadap musik-musik yang kurang lazim kita dengarkan.
Sebenarnya,
saya bukanlah penggemar musik tradisional. Pada mulanya, saya secara
tidak sengaja melihat suatu pertunjukan musik esembel tradisional di
kampus saya. Dan saya terkagum-kagum, bagaimana bisa alat-alat musik
bambu beraneka ragam tersebut ketika dimainkan secara ensemble, suaranya
terdengar begitu harmonis dan indah. Ketika saya mendengarnya, tak
kalah terdengar seperti sebuah “orkestra mini”. Lagu-lagu yang mereka
mainkan pun bukan hanya lagu tradisional sunda saja, tetapi mereka
bahkan bisa memainkan lagu salah satu band lokal Indonesia, luar biasa!
Tapi apa
nama grup ensemble tersebut? Bila disebut grup gamelan, bukan juga.
Soalnya saya perhatikan meski ada alat musik seperti gambang, tapi tidak
selengkap gemalen yang ada “kenong”, gong, suling dll. Alat musik yang
saya lihat hanya satu set angklung, 2 set gambang bambu, dan bass.
Dibilang grup angklung juga bukan, sebab didalamnya ada alat musik yang
lain, bukan hanya angklung. Jadi disebut apakah grup musik ini?
Setelah
mencari tahu sana-sini, ternyata kelompok musik bambu ensemble tersebut
dinamakan arumba. Arumba sendiri merupakan singkatan dari Alunan Rumpun
Bambu. Suatu ensembel arumba setidak-tidaknya terdiri atas :
- Satu unit angklung melodi, digantung sehingga bisa dimainkan oleh satu orang
- Satu unit bass lodong, juga dijejer agar bisa dimainkan satu orang
- Gambang bambu melodi
- Gambang bambu akompanimen
- Gendang
Pada
gambar diatas dapat kita lihat alat-alat musik yang dipakai dalam
esembel arumba tersebut. Mungkin anda pernah melihatnya, tetapi tidak
tahu kalau esembel ini disebut arumba? :)
Dalam
arumba, selain harmonisasi ada dinamikanya. Mungkin tidak se-energik
pemain perkusi. Tapi didalam kekompakan para pemain arumba ketika
memainkan alat musik tersebut, saya melihat kebersamaan dan keramahan
khas lokal yang mungkin tidak kita temui pada esembel musik-musik modern
lainnya.
Saya
bukanlah pemain arumba. Saya menulis dari sudut pandang saya sebagai
penikmat musik yang mengamati permainan arumba dari “luar”. Namun berkat
mlihat arumba hari itu, saya menjadi semakin terinspirasi untuk lebih
mengenal musik-musik tradisional dari daerah lainnya di Indonesia.
Terimakasih Arumba, karenamu saya (kembali) jatuh cinta pada musik
tradisional khas Indonesia.
penulis : Rahma Sofiannisa







Tidak ada komentar:
Posting Komentar